Honda EM1 e Dibanderol Rp40 Jutaan, Spesifikasinya Jadi Perbincangan di Pasar Bekas
![]() |
| Honda EM1 e merupakan motor listrik Honda yang memiliki kecepatan maksimal 45 km/jam dan jarak tempuh tersertifikasi 41,1 kilometer. |
Ekobis - Honda EM1 e menjadi salah satu motor listrik Honda yang cukup menarik perhatian di pasar kendaraan listrik Indonesia. Salah satu alasannya adalah banderolnya yang berada di angka Rp40 juta, sementara spesifikasi resminya mencatat kecepatan maksimum 45 km/jam dan jarak tempuh tersertifikasi 41,1 kilometer.
Angka tersebut membuat Honda EM1 e memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan sejumlah produk Honda lainnya. Astra Honda Motor menempatkan EM1 e sebagai kendaraan listrik untuk kebutuhan mobilitas perkotaan.
Di atas kertas, harga dan performa tersebut kemudian menjadi bahan perbandingan bagi konsumen. Terlebih, Honda saat ini juga menawarkan beberapa pilihan motor listrik lain dengan spesifikasi yang berbeda.
Berdasarkan laman resmi Astra Honda Motor, EM1 e dipasarkan mulai Rp40 juta dengan certified range 41,1 kilometer dan top speed 45 km/jam. Sementara Honda ICON e: dibanderol mulai Rp28 juta dengan jarak tempuh tersertifikasi 53 kilometer dan kecepatan maksimum 55 km/jam.
Adapun Honda CUV e: berada di kelas yang berbeda. Model tersebut dipasarkan mulai Rp54,45 juta dengan certified range 80,7 kilometer, daya puncak 6 kW, serta kecepatan maksimum 83 km/jam.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa setiap model memang memiliki positioning yang berbeda. EM1 e lebih diarahkan untuk penggunaan perkotaan dengan performa yang relatif terbatas, sedangkan CUV e: menawarkan kemampuan yang lebih tinggi dengan harga yang juga lebih mahal.
Spesifikasi Honda EM1 e
Honda EM1 e menggunakan motor listrik dengan daya maksimum yang pada laman teknologi Honda tidak dicantumkan sebagai angka peak power. Kecepatan maksimumnya tercatat 45 km/jam, sedangkan jarak tempuh tersertifikasi mencapai 41,1 kilometer.
Salah satu teknologi yang menjadi bagian dari EM1 e adalah Honda Mobile Power Pack e:, yakni baterai yang dapat dilepas dari kendaraan. Konsep tersebut memberikan fleksibilitas bagi pengguna dalam proses pengisian daya.
Dengan karakter tersebut, EM1 e lebih cocok dilihat sebagai kendaraan untuk mobilitas harian dengan kebutuhan perjalanan yang tidak terlalu jauh. Konsumen yang membutuhkan kecepatan lebih tinggi atau jarak perjalanan lebih panjang tentu akan memiliki pertimbangan berbeda.
Persoalannya muncul ketika harga EM1 e dibandingkan dengan motor Honda bermesin bensin. Dalam daftar produk Honda 2026, misalnya, PCX160 tercantum mulai Rp35 juta, sedangkan Vario Evo 160 mulai Rp28,525 juta. Harga tersebut membuat EM1 e berada di atas beberapa skutik Honda bermesin bensin dari sisi harga awal.
Namun, perbandingan harga semata belum cukup untuk menentukan apakah sebuah kendaraan layak atau tidak. Motor listrik memiliki karakter penggunaan, biaya energi, teknologi baterai, serta kebutuhan perawatan yang berbeda dengan kendaraan bermesin pembakaran.
Harga Bekas Jadi Perhatian
Selain harga barunya, Honda EM1 e juga menarik perhatian dari sisi pasar kendaraan bekas. Sejumlah unit bekas di platform jual beli daring pernah ditawarkan dengan harga yang jauh di bawah harga barunya.
Jika sebuah unit yang sebelumnya dibeli sekitar Rp40 juta kemudian ditawarkan kembali di kisaran Rp20 jutaan, selisihnya memang terlihat cukup besar. Namun, harga yang tercantum dalam iklan merupakan harga permintaan penjual dan belum tentu sama dengan nilai transaksi akhir.
Karena itu, angka tersebut tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan bahwa seluruh Honda EM1 e mengalami depresiasi pada tingkat yang sama.
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi harga motor listrik bekas. Kondisi baterai menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan calon pembeli. Selain itu, usia kendaraan, jarak tempuh, kondisi fisik, riwayat perawatan, kelengkapan dokumen, serta perkembangan teknologi kendaraan listrik juga dapat memengaruhi nilai jual.
Ketersediaan jaringan layanan juga menjadi faktor yang relevan. Honda sendiri menyediakan jaringan dealer dan bengkel untuk produk EV di sejumlah wilayah Indonesia.
Bukan Sekadar Soal Kecepatan
Dengan top speed 45 km/jam, EM1 e memang tidak dirancang untuk mengejar performa tinggi. Karakter tersebut perlu dilihat sesuai dengan tujuan penggunaannya sebagai kendaraan mobilitas perkotaan.
Karena itu, menyebut EM1 e sebagai “blunder” merupakan sebuah penilaian, bukan fakta yang dapat dibuktikan hanya dari angka spesifikasi.
Yang dapat dilihat secara objektif adalah adanya perbedaan cukup jelas antara EM1 e dan produk Honda EV lainnya. ICON e: memiliki harga awal lebih rendah sekaligus angka top speed dan certified range yang lebih tinggi, sedangkan CUV e: menawarkan performa jauh lebih tinggi dengan banderol yang juga lebih mahal.
Pada akhirnya, daya tarik Honda EM1 e akan sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing pengguna. Bagi konsumen yang membutuhkan kendaraan listrik kompak untuk perjalanan dalam kota, spesifikasinya dapat dianggap sesuai dengan karakter penggunaan tersebut.
Sebaliknya, konsumen yang membutuhkan kecepatan lebih tinggi, jarak tempuh lebih jauh, atau menginginkan fleksibilitas penggunaan seperti skutik bermesin bensin, tentu akan melakukan pertimbangan yang berbeda.
Honda EM1 e pun menjadi contoh bahwa persaingan kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh merek. Harga, performa, jarak tempuh, teknologi baterai, layanan purnajual, serta nilai jual kembali turut menjadi faktor yang diperhatikan konsumen.
Dengan demikian, perdebatan mengenai EM1 e lebih tepat ditempatkan sebagai persoalan value for money dan kesesuaian kebutuhan pengguna, bukan sekadar apakah motor listrik tersebut berhasil atau gagal di pasar.***
