BREAKING NEWS

Kabut Asap Kembali Pekat Selimuti Kalimantan, Warga Soroti Pernyataan Aktivitas Tetap Normal

Kabut asap imbas karhutla masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan. 


RAGAM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan dilaporkan masih diselimuti asap pekat, salah satunya Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Kondisi tersebut ramai dibagikan masyarakat melalui media sosial pada Kamis, 24 September 2026. Dalam sejumlah unggahan, warga memperlihatkan kondisi udara yang tampak berkabut dan pekat hingga membatasi jarak pandang.

Selain mengeluhkan kondisi lingkungan, sejumlah warga juga menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak kabut asap terhadap kesehatan. Keluhan tersebut kemudian ramai dikaitkan dengan pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengenai kondisi aktivitas masyarakat di wilayah terdampak karhutla.

Salah satu unggahan datang dari akun Threads @rizdrone yang membagikan video kondisi Palangka Raya pada Kamis sore. Pemilik akun menyebut rekaman tersebut dibuat sekitar pukul 15.30 WIB dan merupakan video asli tanpa tambahan filter maupun perubahan warna.

“Video yang di-upload asli tanpa filter atau edit warna,” tulis akun tersebut dalam keterangannya.

Unggahan lain juga memperlihatkan tangkapan layar mengenai indeks kualitas udara yang diklaim mencapai angka sangat tinggi di Palangka Raya. Pemilik akun mempertanyakan kondisi tersebut jika dibandingkan dengan pernyataan bahwa aktivitas masyarakat masih berjalan normal.

Keluhan serupa muncul dari sejumlah pengguna media sosial lainnya. Salah satu unggahan menyebut kondisi udara di Balikpapan pada Kamis pagi juga tampak dipenuhi kabut asap dengan tingkat ketebalan yang mengganggu aktivitas warga.

Sementara itu, pengguna Threads lainnya mengungkapkan keresahannya terhadap kondisi Palangka Raya. Ia menilai kabut asap yang dirasakan warga tidak seharusnya dianggap sebagai kondisi yang biasa, terutama ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah udara yang tercemar.

Perbincangan di media sosial tersebut mencuat setelah Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai perkembangan penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.

Dalam laporan yang dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat, 25 September 2026, Suharyanto menyebut roda kehidupan masyarakat di wilayah terdampak masih berjalan normal.

Menurutnya, aktivitas seperti lalu lintas, kegiatan pertokoan hingga rumah makan masih berlangsung. Gangguan yang disebut paling terasa, kata dia, berkaitan dengan penerbangan keluar dan masuk, khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal,” ujar Suharyanto dalam laporan tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan upaya pemadaman dan penanganan karhutla. Berdasarkan perkiraannya, kondisi tersebut diharapkan dapat berakhir paling cepat pada pertengahan Oktober 2026 atau paling lambat pada pekan ketiga November 2026.

Di tengah pernyataan tersebut, unggahan warga mengenai kondisi kabut asap justru kembali ramai di media sosial. Sejumlah pengguna menggunakan istilah “aktivitas normal” sebagai bentuk respons terhadap pernyataan tersebut, sembari memperlihatkan kondisi udara yang mereka alami secara langsung.

Perbedaan antara laporan mengenai aktivitas masyarakat yang tetap berjalan dan keluhan warga mengenai pekatnya kabut asap pun menjadi perbincangan publik. Kondisi sebenarnya di masing-masing wilayah dapat berbeda, sehingga informasi mengenai kualitas udara, jarak pandang, serta dampak kesehatan perlu dilihat berdasarkan data dan kondisi setempat.***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar